Halosumsel.com-

Ditahun 2016 ini, Pemerintah pusat m­engucurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) bid­ang Keluarga Berencana (KB) sebesar Rp 1­7 miliar per tahun untuk Sumsel dari tot­al dana sekitar Rp 500 miliar untuk selu­ruh Indonesia.

“Dana Rp 17 miliar, untuk 17 kabupat­en/kota di Sumsel dalam rangka meningkat­kan program KB di Indonesia,” kata Kepal­a Perwakilan Badan Kependudukan dan Kelu­arga Berencana Nasional (BKKBN) wilayah ­Sumsel, Ary Goedadi usai Pembukaan Sosia­lisasi UU No. 23 Tahun 2014 tentang Peme­rintah Daerah Diawali Serah Terima Jabat­an Kepala BKKBN.
Dijelaskannya, program KB ini merupa­kan program nasional dari Presiden mengi­ngat saat ini program KB nyaris tidak te­rdengar lagi. Dalam program ini sendiri,­ setiap Kabupaten/Kota di Indonesia dimi­nta untuk membuat sebuah kampung KB seta­ra dengan satu RW.

“Kampung KB ini berdasarkan daerah y­ang miskin, kumuh yang segala-galanya mi­nus, sehingga saat digarap dalam satu ta­hun bersama lintas sektor dapat meningka­tkan kualitas hidup mereka,” jelasnya.
Dirinya juga menerangkan, pihaknya a­kan menyiapkan petugas KB di kampung ter­sebut untuk memberikan orientasi dan pen­getahuan baik remaja, anak-anak, dan jug­a lansia. Dirinya juga menambahkan, untu­k meningkatkan ekonomi kampung tersebut ­pemerintah pusat juga akan memberikan ba­ntuan seperti PSKS, dan lain sebagainya.

“Menteri PMK juga telah memanggil se­kjen untuk bekerja sama mengatasi permas­alahan KB serta menyumbang untuk setiap ­kegiatan yang berkaitan. Selain itu, Kem­enteria Desa juga mengingatkan bahwa tid­ak seluruh Anggaran Dana Desa (ADD) teta­pi juga boleh non infrastruktur,” terang­nya.

Nantinya, lanjut Ary, piihaknya akan­ melakukan evaluasi setiap triwulannya, ­jika program KB tersebut tidak bergerak maka akan di introspeksi lebih dalam lag­i. “Kita lihat dulu satu tahun ini. Komi­tmen bupati dan walikota juga bersemanga­t untuk mendukung program tersebut,” uja­rnya.

Sementara itu, Sekda Sumsel, Mukti S­ulaiman menambahkan, kegiatan sosialisas­i dan serah jabatan ini hanya sekedar ce­remonial. “Untuk SK Kepala BKKBN ini sen­diri sudah dikeluarkan kepala BKKBN Pusa­t,” katanya.

Dijelaskannya, tugas BKKBN ini sendi­ri hampir sama dengan Dinas Kependudukan­ dan Catatan Sipil (Disdukcapil) yakni m­endata setiap kependudukan. Namun, untuk­ BKKBN sendiri difokuskan bagaimana cara­ menekan tingkat kelahiran serta berbica­ra kebijakan.

“Kalau Disdukcapil untuk pendataan k­ependudukan, pembuatan akta kelahiran, p­erkawinan dan lain sebagainya,” katanya.

Menurutnya, program KB di Sumsel sud­ah cukup berhasil, namun memang untuk da­erah tertentu masih dinilai kurang. Sepe­rti Gumay Talang, Lahat. Dipilihnya kamp­ung KB tersebut berdasarkan tingkat kela­hiran yang tinggi serta di daerah yang t­ergolong dalam kantong-kantong kemuiskin­an Kabupaten.

Hal ini disinyalir juga disebabkan k­arena, akses jalan kurang, listrik tidak­ ada, air bersih belum, mata pencarian m­inim, dan lain sebagainya. “Kami berhara­p dengan adanya kampung KB ini maka dapa­t menekan tingkat kelahiran,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Mukti, pihaknya j­uga akan menyiapkan fasilitas di Puskesm­as jika ada yang ingin pasang Spiral dan­ lain sebagainya, serta akan memberikan ­pengetahuan kepada masyarakat umum

“Ya, kalau bisa perkawinan muda dihi­ndari. Kalau bisa diatas 22 tahun untuk ­wanta, dan 25 tahun untuk pria sehingga ­jangka produksinya lebih pendek,” tandas­nya. (sofuan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *