Halosumsel.com
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia ternyata sangat merugikan baik dari sektor sosial hingga perekonomian. Bahkan, kerugian akibat Karhutla 2015 yang dicatat World Bank bisa mencapai Triliun rupiah
Diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, kasus karhutla sudah terjadi sejak 18 tahun lalu dan sangat mengganggu berbagai sektor.
“Karhutla terjadi berulang kali, seolah-olah kita tidak mampu mencegahnya. Ini jadi isu nasional hingga ke dimensi internasionl. Banyak kerugiannya, mengganggu kehidupan sosial masyarakt hingga pertumbuhan ekonomi. Jika dirupiahkan World Bank,Karhutla merugikan Rp 221 Triliun. Itu belum termasuk biaya pemadaman,” ujarnya saat membuka acara Gelar Siaga Api dan Desa Makmur Peduli Api yang diselenggarakan oleh PT Oki Pulp and Paper, Sinar Mas Group, di Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kamis, 24 Maret 2016.
Masalah lingkungan seperti perusakan lingkungan, musnahnya spesias dan pemulihan kawasan karhutla pun menjadi efek besar dari kebakaran di Indonesia.
Terlebih hubungan antar dua negara tetangga, yaitu Malaysia dan Singapore yang sempat terganggu. Pasalnya, kedua negara tersebut menuding Indonesia sebagai kontributor Karbondioksida (CO2) saat karhutla terjadi.
“Mereka tidak melihat Indonesia juga mempunyai hutan yang sangat luas untuk menyerap CO2. Yang dipertaruhkan ini reputasi bangsa yang besar,” lanjutnya.
Upaya pencegahan Karhutla,lanjut Willem, dapat dilkukan secara terukur dan terkoordinir,dengan mengembangkan konsep Karhutla berbasis masyarakat desa. Karhutla yang berulang terjadi harus menjadi landasan dalam upaya pencegahan yang kurang efektiv.
Di Indonesia sendiri, sebanyak 2,5 Juta hektar lahan dan hutan terbakar. Dimana ada seluas 375 hektar lahan dan hutan terbakar di Sumsel. Ternyata, karhutla ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja,tapi juga di dua negara besar seperti Amerika dan Australia. (sofuan)

