PALEMBANG – Suasana ruang pelatihan di Benston Hotel Palembang selama sepekan terakhir terasa berbeda.

Ratusan pekebun kelapa sawit tidak hanya duduk menyimak materi, tetapi juga aktif berdiskusi hingga turun langsung mempraktikkan teknik budidaya di lapangan.

Sebanyak 118 pekebun asal Kabupaten Empat Lawang mengikuti Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit yang digelar pada 14–19 Juli 2026.

Selama enam hari, peserta ditempa melalui perpaduan pembelajaran teori di kelas dan praktik langsung di kebun, guna meningkatkan keterampilan mereka dalam mengelola perkebunan secara lebih modern dan produktif.

Pelatihan ini merupakan hasil kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan IPB Training.

Peserta yang terbagi dalam empat angkatan—X, XI, XII, dan XIII—mengikuti program secara intensif dengan materi yang disusun komprehensif.

Kegiatan dibuka oleh sejumlah perwakilan pemerintah pusat dan daerah, di antaranya Dr. M. Apuk Ismane mewakili Kepala BPPSDMP, Mula Putra, S.E., M.Sc. mewakili Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Herlan Kagami, S.P., M.Si. dari Dinas Perkebunan Sumsel, serta Kepala Dinas Pertanian Empat Lawang, Hendra Lezi, S.P.

Selama pelatihan, peserta dibekali berbagai materi penting, mulai dari pemilihan benih unggul, teknik pembibitan, persiapan lahan, penanaman, hingga perawatan tanaman. Tidak ketinggalan, materi pemupukan, pengendalian gulma, serta penanganan hama dan penyakit juga menjadi fokus utama.

Yang membuat pelatihan ini berbeda, peserta tidak hanya belajar secara teoritis. Mereka juga mengikuti sesi praktikum seperti pengujian pupuk dengan metode pelarutan, penggunaan pH meter dan kertas lakmus untuk mengukur tingkat keasaman tanah, hingga praktik pembibitan menggunakan alat ponjok dan teknik pengajiran untuk menentukan titik tanam yang presisi.

Antusiasme peserta semakin terlihat saat mengikuti kunjungan lapang ke PT Dutareka Mandiri. Di lokasi tersebut, mereka mengamati langsung proses budidaya di berbagai fase, mulai dari pembibitan, Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), hingga Tanaman Menghasilkan (TM).

Pada areal TBM, peserta mempraktikkan teknik kastrasi dan pengendalian gulma, sementara di areal TM mereka belajar melakukan pruning sesuai standar perusahaan.

Bahkan, di stasiun sortasi, peserta diuji untuk memilah 20 tandan buah segar berdasarkan tingkat kematangan dan kualitasnya.

Melalui pelatihan ini, para pekebun diharapkan mampu menerapkan ilmu yang telah diperoleh saat kembali ke daerah masing-masing.

Dengan penerapan teknik budidaya yang tepat, produktivitas kebun rakyat diyakini dapat meningkat signifikan, sekaligus menghasilkan panen yang lebih berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia ini menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong kemajuan sektor perkebunan kelapa sawit rakyat, khususnya di Kabupaten Empat Lawang.(ril)