Halosumsel.com-

Pedagang pasar kalangan Desa Bukit Kecamatan Betung mengeluh, pasalnya sudah sepi pembeli, lapak tempat berjualan selalu kotor, kalau ada hujan becek dan sedihnya lagi hewan ternak jenis sapi pun dibiarkan berkeliaran ditengah keramaian tempat pedagang berjualan dipasar tersebut.

Bukan hanya itu yang dikeluhkan sewanya kios pasar kalangan setiap hari Minggu ini terbilang cukup mahal sewa kontrakannya yang nilainya Rp. 800 ribu selama sesuai dengan masa jabatan kepala didesa ini, ujar Ambar salah seorang pedagang manisan kepada wartawan media ini (21/3) beberapa saat yang lalu.

Ambar menambahkan, sebenarnya kalau masalah sewa kios ini tidak bermasalah, karena lama waktunya, tetapi cara pengelolaanya yang dikeluhkan para pedagang dipasar kalangan ini.

” Kami setiap kalangan ketika mau membuka kios ini, lokasinya selalu banyak kotoran sapi, padahal kami sebagai pedagang semua ini ada retribusi kebersihan sebesar Rp. 3000,- setiap kalangan”, ungkap Ambar.

Yang disesalkan para pedagang dipasar kalangan ini cara pengelolaannya yang tidak bagus dan dana sewa kios dan dana retribusi itu untuk apa dan dikemanakan, sambung Mbok Biah.

Dia mengaku ” Saya sudah lebih 15 tahun berjualan dipasar kalangan ini, kalau dulu masih menempati kios yang lama sewanya Rp.200 ribu, kalau dikios ini menjadi Rp.800 ribu”.

Mbok Biah mengatakan, selama hampir 3 bulan berjualan dikios yang baru ini berjualannya belum ada menikmati keuntungan, karena sepi pembeli dan paling lama pukul 10.00 wib kondisi pasar ini sudah sangat sepi pembelinya.

Wajar kata Mbok Biah para pedagang pasar kalangan ini  sekarang banyak yang mengeluh sebab benar-benar sepi pembeli, pasarnya juga kotor ditambah bangunan los pasar kalangan dibangun asal jadi jadi saja, yang mengkuatirkan lagi oleh pedagang kondisi bangunan bagian atapnya tanpa ada glagar tebing layar, tambah Paimin juga salah seorang pedagang.

Paimin meminta pengurus pasar ini supaya memperhatikan kondisi pasar ini, kalau masalah berbagai tarikan jenis retribusi tidak masalah kalau pembelinya ramai.

” Hari ini berjualan hanya dapat pelaris tak lebih Rp.300 ribu pun kotor, belum ongkos kendaraan dan makan juga belum bayar pembantu, jadi selama menempati kios yang baru ini belum benar menikmati keuntunganya, maka wajar banyak kawan dipasar yang menempati kios ini mengeluh”, jelasnya.

Dikatakan Paimin, pengelola pasar kalangan ini dari Pemerintah Desa, tetapi saya tidak mengenal nama petugasnya, terangnya sembari beringkas menyusun barang dagangannya untuk diangkut pulang ke Betung.

Terpisah, Tokoh Masyarakat Kecamatan Betung, Heriyanto, S.I.Kom, terkait keluhan para pedagang menjadi sepi pembeli itu dinilai sangat wajar, sebab kondisi pasar yang kotor dan mereka mengaku kuatir berjualan dikios itu karena dibangun oleh pekerja kontraktornya asal jadi dan fisik bangunan pun semacam itu sangat membahayakan bagi penghuninya.

Heriyanto menilai pengelola pasar kalangan tersebut tidak profesional, karena tidak memperhatikan tentang kenyamanan dan keindahan lingkungan tempat berjualan, jika sistemya semacam itu pedagang pasti terus merugi, tegasnya.

Sementara berita ini diterbitkan pengelola pasar kalangan Desa Bukit belum ada yang dapat untuk diminta konfirmasinya terkait keluhan para pedagang. (waluyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *