Halosumsel.com-
Perusahaan penambang pasir yang ada di kota Palembang terancam gulung tikar. Betapa tidak, mereka mengeluhkan rendahnua harga penjualan pasir yabg dibeli pihak PT HK dalam proyek pembangunan yang ada di Sumatera Selatan. Hal ini diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Penambang Pasir Sumsel (AP2S), Zuhri Lubis didampingi Dewan penasehat, H Toyeb Akib dan Korlap Investigasi, Maskur Putra kepada awak media, kemarin.
“Betul puluhan perusahaan tambang pasir di kota Palembang ini ngeluh, karena penjualan pasir murah dan pembayarannya pun akan dilakukan tiga bulan sekali oleh pihak PT HK. Jelas, kami semua keberatan, setidaknya mereka harus mempertimbangkan biaya operasional kami perhari,” jelasnya berharap agar penjualan pasir setidaknya diberikan harga sama dan merata.
Dikatakan Zuhri, keberadaan pembangunan jalan tol Sumsel memerlukan pasir sebagai bahan pembangunan. Namun, pasir yang dibeli dari perusahaan lokal harganya dibawah standar.
“Memang banyak anggota kita yang pasirnya dibeli oleh PT HK selaku pemegang proyek pembangunan jalan. Namun, harganya hanya berkisar Rp 37 ribu perkubik, padahal, normalnya Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu perkubik,” bebernya.
Lebih jauh, Kondisi yang tidak seimbang tersebut sangat membuat resah para penambang pasir. Hanya, gara-gara harga yang tidak pantas tersebut membuat beberapa usaha tambang pasir di Palembang menyetop produksinya. “Situasi ini sangat merugikan, berapa banyak tenaga kerja yang dirumahkan sementara waktu,” papar tokoh masyarakat, H Toyib Akib.
Ditambahkan Toyib, mestinya perusahaan BUMN tersebut lebih bijaksana khususnya menerapkan harga standar lokal pasir, yang mereka terima untuk merealisasikan pekerjaan pembangunan di Sumsel.
“Ini yang kami tidak terima, mereka sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan. Kami tidak yakin harga pasir yang ada di RAP pembangunan hanya Rp 37 ribu perkubik. Jika memang mereka mengambil umtung, hendaknya jangan juga menekan harga seperti ini,”tegas dia. (agustin selfy)
