Optimisme konsumen Sumatera Selatan terus menguat. Peningkatan optimisme pada bulan Juni 2022 ini didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat karena tidak terdapat pembatasan pada masa libur lebaran tahun ini.
Survei Konsumen di Sumatera Selatan Juni 2022 mengindikasikan optimisme terhadap kondisi ekonomi terus menguat. Hal ini terindikasi dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2022 sebesar 134,3, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.
Hal ini terungkap dalam konferensi pers APNB KiTa (kinerja dan fakta) Sumatera Selatan yang diadakan forum ALCo (Asset and Liabillites Committee) Regional Sumatera Selatan bertempat di Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung, di Jalan Tasik, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan pada hari Jumat, 29/7/2022.
Selain fakta itu, kegiatan itu juga mengungkap kinerja dari sisi pendapatan dan belanja negara. Pendapatan di Sumatera Selatan per 30 Juni 2021 terealisasi Rp8,52 triliun. Atau mencapai 57,44% dari target pendapatan yang ditetapkan. Pendapatan ini terdiri dari Penerimaan perpajakan sebesar Rp7,4 triliun, dan PNBP sebesar Rp1,1 triliun.
Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pendapatan ini mengalami kenaikan sebesar Rp2,96 triliun atau tumbuh 53,28%. Kenaikan terbesar disumbang oleh Pajak Penghasilan sebesar Rp1,81 triliun. Lebih tinggi 68,15% dari tahun 2021 lalu.
Sementara realisasi belanja negara sebesar Rp17,8 triliun. Atau 43,87% dari pagu yang ditetapkan. Terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp5,4 triliun dan belanja transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) Rp12,4 triliun.
Belanja pemerintah pusat ini terdiri dari belanja pegawai Rp2,5 triliun, belanja barang Rp1,99 triliun, belanja modal Rp929,16 miliar, dan belanja sosial Rp5,97 miliar.
Belanja ini mengalami penurunan sebesar Rp863 miliar. Turun 13,78%. Penyebabnya, belanja modal yang secara pagu maupun realisasi yang lebih rendah dibandingkan tahun 2021. Belanja Modal 2021 lebih tinggi dikarenakan terdapat beberapa proyek yang merupakan carry over dari tahun 2020.
Adapun belanja TKDD terdiri dari Dana Bagi Hasil (DBH) Rp2,2 triliun, Dana Alokasi Umum (DAU) Rp6,4 triliun, dan Dana Alokasi Khusus Fisik (DAK Fisik) Rp127,6 miliar. Lalu Dana Insentif Daerah (DID) Rp69,07 miliar, DAK non Fisik Rp2,3 triliun, dan Dana Desa Rp1,2 miliar. Realisasi TKDD ini mengalami penurunan sebesar Rp1,04 triliun. Lebih rendah 7,91% dari tahun lalu.
Peningkatan IKK ditopang oleh ekspektasi konsumen terhadap kondisi usaha ke depan yang diperkirakan akan meningkat. Ditambah lagi kondisi usaha yang membaik menambah keyakinan konsumen akan ketersediaan lapangan kerja yang juga akan meningkat.
Keyakinan konsumen pada Mei 2022 yang menguat, didorong oleh meningkatnya persepsi konsumen terhadap meningkatnya ekspektasi konsumen (IEK) dan kondisi ekonomi saat ini (IKE) terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) terjadi pada seluruh komponen pembentuknya. Yakni optimisme penghasilan saat ini, optimisme ketersediaan lapangan kerja, dan optimisme untuk membeli barang tahan lama (durable goods).
Forum ALCo Regional Sumatera Selatan juga mempublikasikan kinerja pendapatan dan belanja di Sumatera Selatan.
Pendapatan negara di Sumatera Selatan per 30 Juni 2021 terealisasi Rp8,52 triliun. Atau mencapai 57,44% dari target pendapatan yang ditetapkan. Pendapatan ini terdiri dari Penerimaan perpajakan sebesar Rp7,4 triliun, dan PNBP sebesar Rp1,1 triliun.
Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pendapatan ini mengalami kenaikan sebesar Rp2,96 triliun atau tumbuh 53,28%. Kenaikan terbesar disumbang oleh Pajak Penghasilan sebesar Rp1,81 triliun. Lebih tinggi 68,15% dari tahun 2021 lalu.
Sementara realisasi belanja negara sebesar Rp17,8 triliun. Atau 43,87% dari pagu yang ditetapkan. Terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp5,4 triliun dan belanja transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) Rp12,4 triliun.
Belanja pemerintah pusat ini terdiri dari belanja pegawai Rp2,5 triliun, belanja barang Rp1,99 triliun, belanja modal Rp929,16 miliar, dan belanja sosial Rp5,97 miliar.
Belanja ini mengalami penurunan sebesar Rp863 miliar. Turun 13,78%. Penyebabnya, belanja modal yang secara pagu maupun realisasi yang lebih rendah dibandingkan tahun 2021. Belanja Modal 2021 lebih tinggi dikarenakan terdapat beberapa proyek yang merupakan carry over dari tahun 2020.
Sementara belanja TKDD terdiri dari Dana Bagi Hasil (DBH) Rp2,2 triliun, Dana Alokasi Umum (DAU) Rp6,4 triliun, dan Dana Alokasi Khusus Fisik (DAK Fisik) Rp127,6 miliar. Lalu Dana Insentif Daerah (DID) Rp69,07 miliar, DAK non Fisik Rp2,3 triliun, dan Dana Desa Rp1,2 miliar. Realisasi TKDD ini mengalami penurunan sebesar Rp1,04 triliun. Lebih rendah 7,91% dari tahun lalu.
Survey konsumen pada bulan Juni ini menunjukkan masyarakat Sumatera Selatan optimis. Sama optimisnya dengan kinerja APBN sebagaimana diungkap Forum ALCo Regional Sumatera Selatan. Sikap optimis ini mendorong kita fokus memandang masa depan, untuk membangun Sumatera Selatan yang maju untuk semua.
Hasbi Kesuma Leo
Analis Perbendaharaan Negara
Pada Kanwil DJPb Provinsi Sumatera Selatan

