Palembang, Halosumsel– Sejumlah tokoh politik memiliki prinsip yang harus dipegang baik terhadap kawan maupun lawan politiknya. Jika Presiden Prabowo Subianto sering mengatakan “Seribu orang kawan terlalu sedikit, satu orang lawan terlalu banyak”, Gubernur Sumsel Dr Herman Deru memiliki prinsip yang berbeda yakni, “Jangankan kawan, lawan pun harus dibuat nyaman”.
Demikian Herman Deru saat ditanya wartawan senior Hadi Prayogo tentang lanjutan karir politiknya ketika masa kerja gubernur Sumsel periode kedua sudah habis. Wawancara dilakukan saat audensi Dr Albahori M.I.Kom, Dr Hadi Prayogo dan Dr Ir Ibnu Aziz MT Ars di kediaman pribadi Taman Kenten, minggu lalu. Ketiganya melaporkan terbentuknya perkumpulan para doktor dari berbagai disiplin ilmu dengan nama Komunitas Doktor Sumatera Selatan (KDSS). Selain meminta kesediaan Dr Herman Deru sebagai Pembina juga sekaligus mengukuhkan kepengurusan KDSS periode 2026-2029.
Dengan pengalaman yang sangat matang, dimulai dari saat menikahi Febrita Lustia, pada usia 17 tahun, menjadi pengusaha lalu Bupati OKU Timur (2005-2015) dan kini menjadi Gubernur Sumsel dua periode (2018-2023) dan (2025-2030), pernah juga kalah dalam pemilihan bupati dan pemilihan gubernur, Herman Deru yang akrab dipanggil HD tentunya bisa disejajarkan sebagai yang dituakan dalam dunia politik di Sumsel.
“Dalam berpolitik tidak ada kawan maupun lawan yang abadi karena itu jangankan kawan, lawan pun harus kita buat nyaman.,” katanya. Ungkapan ini menyiratkan bahwa HD bukan tipe pendendam serta siap berdekatan dengan semua lapisan masyarakat. Hal ini dipegangnya sampai sekarang, bahkan ada seorang pejabat yang sebelumnya berpihak ke lawan politiknya di Pilgub 2024 tetap ditarik sebagai pejabat di lingkungan Pemprov Sumsel jika memang tenaganya dibutuhkan.
Dia berharap dengan prinsip lawan pun dibuat nyaman agar hubungan tetap terjalin dengan baik, tidak saling menyerang. Karena jika saling menyerang tentu kepentingan masyarakat diabaikan padahal orang bertujuan berpolitik tidak lain adalah mengemban amanah masyarakat.
Lalu bagaimana dia menyiapkan diri menghadapi politik setelah tidak lagi menjabat Gubernur Sumsel, HD pun mengungkapkan yang penting bagi seorang politisi adalah terus bergerak. “Nanti alam akan mengikuti bahkan seolah menyiapkan sesuatu untuk kita. Ini berdasarkan pengalaman saya,” jelas HD.
Dikisahkan saat pemilihan Gubernur Sumsel 2018, dirinya sebenarnya tidak sepenuhnya siap terutama masalah dana. Hal ini karena dia sudah lama pensiun dari jabatan pemerintah pada 2015 saat berakhir menjadi Bupati OKU Timur. Selain itu putrinya Percha Leanpuri (almh) juga kalah dalam Pilbup OKU 2015. Pada Pilgub Sumsel 2013 Heman Deru juga mengalami kekalahan. Namun karena terus bergerak, kesempatan itu selalu terbuka alam seolah memberi sinyal positif dan tentunya juga karena Ridho Allah SWT.
Saat itulah HD dipanggil Presiden Jokowi (2014-2024) dan ditanya apa yang kurang dalam ikut Pilgub 2018 saat itu. HD pun mengatakan kurang satu partai politik pendukung (HD sudah mendapat dukungan Partai Nasdem dan Partai Amanat Nasional), dan yang terbuka kesempatan untuk mendukungnya adalah Partai Hanura. “Saya tidak bilang sedang kehabisan dana. Karena tabu bagi saya untuk cerita tidak punya uang maju pilkada,” katanya.
Tidak lama setelah pertemuan dengan Jokowi, Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang mengundangnya ke Jakarta, dan bertanya mengapa HD tidak melamar Partai Hanura untuk memenuhi suara parpol pendukung. Dan akhirnya, meskipun diselingi konflik internal di DPD Hanura Sumsel yang berujung digantinya Mularis sebagai Ketua DPD Hanura Sumsel ke Hendri Zainuddin, Herman Deru yang berpasangan dengan Mawardi Yahya bisa mendapat dukungan Hanura yang mengantarnya ikut dalam Pilgub Sumsel 2018 dan menang.
Kemenagan ini menjadi fenomenal karena lawannya dalam Pilgub 2018 juga sarat pengalaman antara lain Dodi Reza Alex-Giri Ramanda, Aswari Rivai-Irwansyah dan Ishak Mekki-Yudha Pratomo. Saat itu Herman Deru yang sudah lama pensiun dari bupati berhadapan dengan lawan yang wakil gubernur, bupati maupun ketua DPRD.
Pada Pilgub 2024 pun meskipun di atas angin karena menjadi petahana melawan pasangan Mawardi Yahya-Anita Noeringhati dan Eddy Santana Putra-Riezky Aprilia, Herman Deru yang berpasangan dengan Cik Ujang bukan tanpa kendala. Saat itu Herman Deru merasa aparat lebih condong mendukung pasangan lawan. Herman Deru pun berinisiatif untuk berkunjung ke kediaman Jokowi di Solo yang meskipun sudah tidak menjabat Presiden RI, tapi tetap sering dikunjungi masyarakat maupun tokoh politik untuk minta wejangan.
Meskipun tidak diucapkan langsung oleh Jokowi namun Herman Deru diberi kesempatan untuk menyatakan ke masyarakat bahwa pasangan Herman Deru-Cik Ujang didukung Jokowi. Dukungan tersebut ternyata berdampak luar biasa di Sumsel yang berakhir dengan kemenangan pasangan Herman Deru-Cik Ujang.
Hal lain yang disampaikan Herman Deru dan ini penting jika menjadi pedoman bagi masyarakat yang ingin berpolitik. Bahwa elektabilitas di dunia digital termasuk medsos tidak sama dengan elektabilitas di masyarakat. Artinya meskipun dihujat oleh netizen di dunia digital bukan berarti sama dengan masyarakat di lapangan. “Terbukti termasuk saya meskipun elektabilitas di medsos rendah (mungkin akibat buzzer atau lainnya, Red) namun ketika terjun ke lapangan ternyata berbeda. Karena itu jangan percaya hasil survei di dunia digital lebih baik langsung terjun ke lapangan,” paparnya.
Lalu kembali tentang langkah politiknya di masa mendatang, dengan lugas Herman Deru mengatakan akan terus bergerak dan selalu mengharapkan Ridho Allah SWT. “Setelah itu biarlah alam yang mempermudah langkah kita itu,” jelasnya. Seperti kata pepatah Tersenyumlah Dunia Akan Ikut Tersnyum Bersamamu, rupanya sudah dilakukan oleh Dr Herman Deru.
Dudi

