Jakarta, Halosumsel- Ngaji Pertanian: Membangun Kekuatan Petani dari Hulu ke Hilir
Kebijaksanaan Lokal dan Strategi Global: Mengelola Alam secara Rahmatan lil’Alamin
Pertanian Indonesia menghadapi tantangan berat, terutama dalam komoditas unggulan seperti teh, kopi, kakao, kelapa, dan sawit. Di tengah gempuran produk impor dan melemahnya daya saing global, hadir sebuah pemikiran segar yang meramu filosofi lokal dengan strategi pasar modern. Inilah inti dari “Ngaji Pertanian,” sebuah konsep yang digagas oleh Nurfais Almubarok dalam bukunya “Bertani & Menangkan Pasar.”
Filosofi Rahmatan lil’Alamin: Fondasi Bertani yang Lestari
Nurfais mengawali gagasannya dengan lima prinsip dasar yang disebutnya sebagai fondasi “kebun teh rakyat yang lestari dan bernilai.” Prinsip-prinsip ini tidak hanya relevan untuk teh, tetapi juga untuk semua komoditas pertanian.
Pertama, Basis Geografis & Ekologis. Pertanian harus selaras dengan ketinggian, iklim, dan biodiversitas lokal. Kedua, Basis Komunal yang menekankan integrasi antar-subsistem dan siklus energi.
Ketiga, Muliakan Benih, Tanah & Air. Nurfais menegaskan bahwa klon unggul, tanah subur, dan mata air adalah amanah, bukan sekadar komoditas. Ini menjadi dasar etis dalam mengelola sumber daya alam. Keempat, Syukuri Keberlimpahan dengan mengoptimalkan setiap bagian hasil panen dan menekan food loss dan waste.
Terakhir, Manajemen Ekosistem yang menekankan pengelolaan komunal berbasis ekosistem, bukan manajemen struktural yang kaku. “Ini adalah cara pandang yang memuliakan alam, bukan mengeksploitasi,” ujar Nurfais dalam salah satu sesi diskusinya.
Paradoks Teh Indonesia: Potensi Besar, Petani Miskin
Salah satu sorotan tajam dalam buku ini adalah paradoks komoditas teh. Teh memiliki multiplier nilai tambah tertinggi—hingga 100 kali lipat dari harga pucuk mentah menjadi produk specialty. Namun, pendapatan petani teh per hektar per tahun justru terendah, hanya Rp 2-22 juta.
Nurfais memetakan akar masalah ini melalui Problem Tree yang komprehensif. Akar utamanya adalah fragmentasi lahan (rata-rata <0,6 hektar per petani), lemahnya riset dan pengembangan (R&D), serta akses modal yang buruk. Akibatnya, produktivitas rendah (950-1.800 kg/hektar, jauh dari potensi 2.500 kg), mutu lemah (lebih dari 90% produk bulk tanpa nilai tambah), dan daya saing melemah.
Dampaknya pun terasa: ekspor teh Indonesia turun 43% dari 79 ribu ton pada 2010 menjadi 45 ribu ton pada 2022. Nilai ekspor juga merosot 50% dari USD 178 juta menjadi USD 90 juta. Yang lebih memprihatinkan, 65% petani teh saat ini berusia di atas 50 tahun.
“Tanpa perbaikan sistemik, kita kehilangan tidak hanya pasar, tetapi juga regenerasi petani,” tulis Nurfais.
Tiga Pilar Strategi: Berserikat, Bersekutu, Berpolitik
Untuk membalikkan keadaan, Nurfais merumuskan tiga pilar strategi yang saling terkait.
Pilar Pertama: Berserikat (On Farm Management) — Konsolidasi lahan menjadi kunci untuk mencapai skala ekonomi. Dengan menggabungkan lahan-lahan kecil, petani dapat mengakses input teknologi, saprotan, dan sistem benih berkualitas. Standarisasi GAP (Good Agricultural Practices) serta manajemen risiko dan panen terpadu menjadi lebih mudah diwujudkan.
Pilar Kedua: Bersekutu (Off Farm Management) — Membangun kelembagaan dan industri hilir yang kuat. Ini mencakup pembentukan koperasi atau badan usaha bersama untuk mengelola panen, pasca-panen, pergudangan, hingga sertifikasi. “Pertanyaan besarnya: apakah kita akan berbagi modal (investasi) atau sekadar kerja sama?” tanya Nurfais retoris.
Pilar Ketiga: Berpolitik (Dagang & Regulasi) — Nurfais menekankan bahwa memenangkan pasar tidak cukup hanya dengan produksi yang baik. Diperlukan gap analysis pasar lokal dan global, kelembagaan yang mewakili petani di meja kebijakan, serta ekosistem bisnis yang mendukung. “Tarif, pajak, insentif, pembiayaan, dan regulasi payung harus berpihak pada petani,” tegasnya.
Menuju Kebun Rakyat yang Berdaulat
Gagasan Nurfais menawarkan jalan keluar yang sistemik dari permasalahan pertanian Indonesia. Ia mengajak petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga aktor strategis dalam rantai nilai global. Dengan tetap berpegang pada nilai-nilai rahmatan lil’alamin—mengelola alam dengan kasih sayang—petani dapat membangun kekuatan kolektif yang mampu bersaing di pasar internasional.
“Bertani adalah ibadah, tetapi juga bisnis yang harus dimenangkan. Filosofi dan strategi harus berjalan bersama,” demikian kesimpulan Nurfais. “Inilah saatnya petani Indonesia bangkit, dari kebun menuju pasar dunia.”
Apakah konsep ini akan menjadi gerakan nyata? Waktu yang akan menjawab. Namun, yang pasti, “Ngaji Pertanian” telah membuka cakrawala baru tentang bagaimana memandang pertanian secara holistik: dari akar filosofis hingga strategi dagang global. (Red)

