Halosumsel.com –

Bank OCBC NISP menyelenggarakan media briefing Indonesia Market Outlook.  Materi media briefing ini dibawakan oleh ekonom Bank OCBC Singapura Wellian Wiranto serta didampingi oleh Team Wealth Panel Bank OCBC NISP di OCBC NISP Tower, Jakarta (17/03).

Dalam media briefing tersebut dijelaskan mengenai kondisi perkembangan perekonomian Indonesia di awal tahun dengan beberapa poin antara lain    Pertumbuhan perekonomian Indonesia lebih baik di tahun 2016. Hal ini ditunjukan dengan pertumbuhan positif di kuartal 4 (empat) – Q4 2015 yang melebihi dari ekspektasi.  Di Q4 2015, pertumbuhan mencapai 5,04% di atas ekspektasi (4,8%). Hal ini menunjukan bahwa kebijakan ekonomi pemerintah berjalan sesuai rencana. Serta Menguatnya rupiah di level Rp13.000,- pada awal tahun 2016, diikuti dengan dipangkasnya suku bunga hingga 2x (dua kali) ke level 7% oleh Bank Indonesia  membawa aura positif untuk iklim investasi. Diprediksi sampai dengan akhir tahun 2016, Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga hingga ke level 6,5%. Giro Wajib Minimum (GWM)  juga akan ikut diturunkan persentasenya. Hal ini akan memberikan efek positif terhadap kenaikan portfolio kredit. Salah satu faktor penguatnya adalah fokus perekonomian Indonesia pada pengembangan infrastruktur.

 

Dengan perkembangan positif ini, Bank OCBC NISP memprediksi sektor perbankan akan menunjukan trend pertumbuhan yang cukup baik dan ketahanan perbankan tetap solid. Hal ini tercermin pertumbuhan yang positif dari sisi kredit dan simpanan, rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap terjaga serta rasio kecukupan modal yang relatif tinggi (CAR).  Diversifikasi portfolio pada instrumen investasi seperti reksadana, obligasi, dan transaksi forex dapat dijadikan alternatif bagi nasabah.

“Dengan adanya pelonggaran kebijakan yang terjadi saat ini, maka untuk investor dengan risk profile konservatif, diversifikasi dapat dilakukan melalui obligasi dengan tenor maksimal 10 tahun,” ujar Head of Individual Customer Solutions Bank OCBC NISP Ka Jit.  “Sementara, investor dengan risk profile agresif, diversifikasi dapat dilakukan di reksadana saham yang memiliki fokus di sektor consumer staples, health care, telekomunikasi (terkait dengan e-commerce booming), serta konstruksi dan properti,” tambah Ka Jit.

Acara tersebut didampingi Tim Wealth Panel Bank OCBC NISP antara lain  Ka Jit, Head of Individual Customer Solutions,    Juky  Mariska, Wealth Advisory Head,   Novelina Luciana,  Advisory Treasury Head adalah tim advisory yang memberikan market insights bagaimana menyingkapi pergerakan perekonomian sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kondisi ekonomi Indonesia. (Ofie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *