Jakarta, Halosumsel -Pengurus Besar Serikat Tani Islam Indonesia (PB STII) menggelar Seminar Internasional bertajuk “Poros ASEAN: Mitigasi Perubahan Iklim dan Krisis Pangan sebagai Ancaman Global” di Gedung Menara Dakwah, Kramat 45, Jakarta Pusat, Kamis sore (18/6/2026). Acara ini menghadirkan narasumber utama His Excellency Dato Seri Shamsul Iskandar Mohd. Akin, mantan Kepala Kantor Staf Perdana Menteri Malaysia, yang akrab disapa Brother Sem.
Seminar yang berlangsung selama 60 menit ini menjadi ruang diskusi strategis bagi aktivis lingkungan, akademisi, dan tokoh masyarakat dalam mengkaji tantangan global yang dihadapi kawasan Asia Tenggara, khususnya terkait perubahan iklim dan kerapuhan sistem pangan.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua Umum PB STII, Fathurrahman Mahfudz, BIRK., MM., yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), menegaskan bahwa dunia saat ini menghadapi ujian besar berupa cuaca ekstrem, pemanasan global, dan ancaman krisis pangan. Kondisi ini menuntut adanya kesamaan pandangan di antara negara-negara serumpun.
“Kondisi Bumi yang semakin tua menjadikan kita harus menghadapi tantangan besar. Bencana alam dan kerusakan alam yang marak terjadi merupakan peringatan dari Allah SWT terhadap umat manusia sebagai khalifah di Bumi,” ujar Fathurrahman.
Ia menambahkan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki kesamaan iklim dan cuaca, sehingga penguatan hubungan bilateral bukan hanya soal diplomasi formal, tetapi juga persaudaraan sejarah dan budaya yang harus diterjemahkan menjadi kerja sama strategis nyata, terutama dalam menghadapi krisis pangan.
“Melalui kegiatan ini, STII berharap dapat mempererat tali silaturahmi antara elemen masyarakat sipil negara-negara anggota ASEAN, sekaligus membentuk aliansi masyarakat petani tingkat kawasan demi penguatan ekonomi bersama dan terwujudnya Asia Tenggara yang stabil, mandiri, dan sejahtera,” tambahnya.
Menavigasi Krisis Ganda 2026-2030
Dalam pemaparannya, Dato Seri Shamsul Iskandar menyoroti bahwa krisis iklim dan kerapuhan pangan bukan lagi sekadar kesalahan, melainkan ancaman eksistensial terhadap kedaulatan kawasan. Asia Tenggara, dengan lebih dari 680 juta penduduk, merupakan salah satu pusat ekonomi paling dinamis di dunia sekaligus wilayah paling rapuh terhadap anomali iklim ekstrem.
Ia memaparkan bahwa negara-negara yang terancam intrusi air laut mencakup Myanmar bagian selatan, Thailand, Kamboja, Vietnam bagian utara dan selatan, Semenanjung Malaysia, Indonesia (terutama Jawa dan Sulawesi Selatan), serta hampir seluruh wilayah Filipina. Intrusi air laut akibat penyedotan air tanah yang berlebihan ini dapat melumpuhkan sistem output pangan karena air tanah tidak layak konsumsi.
Dato Seri menegaskan perlunya lompatan paradigma dengan meninggalkan pendekatan silo konvensional menuju rantai pasok (supply chain) yang terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan. Paradigma baru ini mencakup fokus pada keamanan manusia (human security) dan ketahanan iklim, sistem kerja terintegrasi, respon krisis sebagai penyangga regional, serta penilaian kredit petani berbasis data cuaca dan teknologi AI.
Ia juga menyoroti tantangan terbesar dalam menjamin rantai pasok pangan adalah meninggalkan pola subsidi berbasis bahan bakar fosil yang rentan terhadap kebocoran dan inefisiensi. Hal ini dinilai krusial mengingat kerentanan kawasan terhadap guncangan ekonomi global.
“Kita harus memikirkan bagaimana Poros ASEAN menjadi satu kekuatan peradaban ke depan. Kawasan ini membutuhkan kesamaan persepsi, tujuan yang sama di tingkat kawasan, serta kepemimpinan yang memiliki agenda dan visi jelas, sejalan dengan Visi Komunitas ASEAN 2045,” tegas Brother Sem.
Ia juga mengharapkan munculnya prinsip Halal Climate — keinginan bersama untuk saling mensejahterakan sesama negara sahabat.
Tiga Pilar Kerangka Kerja Sama
Dato Seri memaparkan pola sintesa segitiga terbalik yang mencakup tiga pilar utama:
1. Perisai Kebijakan Regional melalui Diplomasi APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve) yang melibatkan ASEAN ditambah Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. Mekanisme ini memastikan ketersediaan pasokan beras di kawasan, di mana negara surplus dapat menyalurkan bantuan kepada negara yang dilanda darurat pangan.
2. Kebijakan FAF-SP 2026-2030 (Food, Agriculture, and Forestry Sectoral Plan) sebagai cetak biru strategis untuk memajukan sektor pangan, pertanian, dan kehutanan secara holistik, dengan fokus pada inklusivitas, ketangguhan, ramah lingkungan, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
3. Ketahanan Akar Rumput melalui perlindungan absolut bagi petani kecil dan nelayan, dengan pendekatan pertanian presisi dan mitigasi agromaritim.
Ia juga mendorong adanya katalisator finansial melalui siklus pembiayaan hijau pintar yang meliputi: pemantauan data cuaca dan panen berbasis AI real-time, skor kredit tanpa agunan tanah berdasarkan metrik data historis, jaring pengaman iklim yang menyesuaikan pembayaran pinjaman secara otomatis saat terjadi anomali cuaca, serta dana pelaburan lestari yang mengalirkan modal publik ke infrastruktur berimpak tinggi.
Komitmen STII terhadap Ketahanan Pangan
Wakil Ketua Umum PB STII, Hilman Ismail Metareum, yang bertindak sebagai moderator, menyatakan bahwa sebagai organisasi yang bergerak di bidang pertanian dan pemberdayaan petani, STII menempatkan isu ketahanan pangan sebagai prioritas utama. Ia menegaskan bahwa swasembada pangan bukan hanya target nasional masing-masing negara, melainkan kebutuhan kawasan untuk mencegah ketergantungan berlebihan pada impor dari luar ASEAN.
Hilman mengapresiasi usulan Dato Seri Shamsul terkait Halal Climate demi kesejahteraan masyarakat kawasan ASEAN yang lebih luas. “Kita berharap Poros ASEAN ini dapat dibentuk agar negara-negara kawasan ASEAN dapat menjadi kekuatan alternatif terkait pertanian dan ketahanan pangan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti relevansi tema diskusi dengan program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang telah dicanangkan Pemerintah Indonesia melalui BAPPENAS, khususnya penanganan perubahan iklim. STII menyatakan dukungan penuh terhadap Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, utamanya tentang kemandirian pangan, energi, air, dan ekonomi hijau.
“STII hadir untuk petani!” tutup Hilman mengakhiri rangkaian acara diskusi yang berlangsung interaktif hingga menjelang waktu maghrib tersebut.
Rel

