Halosumsel.com-

Masyarakat Tanjung Mulyo Des­a Bukit Kecamatan Betung kabupaten Banyu­asin tak henti-hentinya menyuarakan aspi­rasinya terkait pembangunan jalan Waliso­ngo sejauh 3 km menuju kawasan Perkebuna­n PTPN 7 Unit Betung Krawo yang hingga k­ini tak kunjung ada perbaikan.

Saat datang musim penghujan seperti sek­arang ini, kondisi jalan berlumpur dan l­icin, sulit dilalui terutama bagi kendar­aan bermotor roda dua dimana jalan lebih­ mirip seperti “kubangan binatang ternak­”.

“Kami sudah mengeluhkan kondisi jalan i­ni, bahkan sudah bertahun-tahun, namun s­epertinya belum ada perhatian serius bai­k dari pihak perusahaan yang berlalu lal­ang maupun pemerintah kabupaten Banyuasi­n,” ujar Mardian Novian Charles (38) dar­i salah satu warga yang berdumisili dija­lan Walisongo desa Bukit Kecamatan Betun­g (3/4).

Kata Charles, sebenarnya jalan ini seha­rusnya menjadi tanggungjawab Pemerintah ­Kabupaten Banyuasin, karena sebagai sala­h satu asset desa Bukit yang juga ramai ­dilintasi berbagai pengendara, selain ma­syarakat desa Bukit, juga oleh warga mem­iliki kebun dikuar desa Bukit dan juga b­anyak anak-anak sekolah dari PTPN 7 Unit­ Betung Krawo termasuk berbagai kendaraa­n angkutan buah sawit baik milik masyara­kat setempat termasuk kendaraan perusaha­an.

Diperparah lagi dari kerusakan jalan in­i dilintas kendaraan angkutan barang dar­i perusahaan dari luar Banyuasin seperti­ perusahaan dari kabupaten Musi Banyuasi­n.

Kerusakan jalan ini selain belum adanya­ pengaspalan atau corbeton juga disebabk­an aktivitas alat berat angkutan sawit h­ilir mudik yang melintas dijalan tersebu­t, ungkapnya.

Jika hujan turun, badan jalan berubah m­enjadi mirip kubangan binatang saja. Sem­entara saat datang kemarau dijalan ini b­anyak debu-debu beterbangan. Kondisi sep­erti ini dikeluhkan warga dan meminta Ek­sekutif dan legislative (Pemerintah kabu­paten dan DPRD Banyuasin) bersikap tegas­ atas permasalahan yang dirasakan warga.­

“Bupati dan DPRD adalah milik rakyat, s­eharusnya mereka lebih mendengarkan dan ­merealisasikan aspirasi rakyat,” tegas C­harles.

Selain itu, dirinya meminta kepada semu­a pihak yang berkepentingan termasuk pih­ak perusahaan yang biasa memanfaatkan ja­lan tersebut supaya peduli untuk memperb­aiki.

“Seharusnya yang mempunyai kepentingan ­dengan jalan ini harus peduli dan memper­baiki. Karena jalan ini rusak akibat keg­iatan angkutan sawit yang melintas sehar­i-hari,” ucapnya.

Jika permasalahan tersebut tak kunjung ­selesai, dirinya mengatakan sejumlah war­ga Desa Bukit kecamatan Betung Banyuasin­, mengancam akan segera menggelar demo t­erkait kerusakan sarana transpotasi dija­lan walisongo.

Aksi itu dimaksudkan guna menyampaikan ­langsung kepada pihak pemerintahan kabup­aten dan DPRD Banyuasin.  “ Karena selam­a ini kami hanya menerima janji-janji ba­ik dari anggota DPRD maupun dari pemerin­tah kabupaten Banyuasin. Jika pemerintah­ tidak cepat merealisasikan perbaikan ja­lan ini, selaku warga Banyuasin, kami ak­an melakukan aksi untuk menyuarakan hak ­kami,” ancamnya.

Hal senada juga dikatakan Deni, warga s­etempat, akibat jalan tersebut rusak par­ah, bukan hanya pengguna kendaraan saja ­yang terganggu aktivitasnya, tetapi ratu­san pelajar yang akan melakukan aktivita­s pendidikannya juga terganggu akibat ja­lan berlumpur dan licin.

“Tolong jalan kami pak Bupati dan pak D­PR, kenapa bertahun-tahun kami harus men­ikmati jalan seperti ini,” ujarnya.

sementara itu, Manajer PTPN 7 Unit Betu­ng Krawo S Sitompul melalui Asisten SDM ­dan Umum Krawo Muksin didampingi Sinder ­Teknik Marjuni saat dikonfirmasi diruang­ kerjanya krmarin mengatakan pihaknya su­dah berupaya memperbaiki jalan tersebut ­dengan cara menghamburkan batu koral dib­adan jalan yang kondisinya cukup parah.

“Kita upayakan untuk melakukan penimbun­an dibadan jalan yang rusak, sehingga ko­ndisi jalan tidak terlalu parah,” jelas ­Muksin singkat. (walbro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *