Halosumsel.com-
Jelang bulan Ramadhan yang tinggal menghitung waktu, ada beberapa kota di Indonesia akan melakukan penutupan tempat lokalisasi. Laporan ini sudah disampaikan ke Kementrian Sosial (Kemensos) RI. Namun sayang, kota Palembang tidak masuk dalam kota yang akan bertindak tegas dalam memberantas penyakit masyarakat ini.
Menurut Khofifah Indar Parawansa, Menteri Sosial (Mensos) RI, dari hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada 29 Januari 2016 lalu, dirinya bertemu dengan tiga bupati daerah yang menyatakan kesiapan untuk menutup lokalisasi di daerahnya.
“Saya ketemu dengan Bupati Tangerang, mereka akan menutup lokalisasi bulan Juni, Kutai Kartanegara akan menutup dua bulan lagi di dua titik dan Mojokerto tinggal launching saja. Kalau Palembang, belum terkonfirmasi,” ujarnya seusai menghandiri Pencairan Bantuan Penerima Manfaat PKH di Ruang Parameswara, kantor Walikota Palembang, Rabu (18/4)
Seusai penutupan lokalisasi, para Pekerja Seks Komersial (PSK) akan mendapatkan bantuan dari Kemensos berupa vocational training, transport lokal dan dana mandiri sebesar Rp 5.050.000. Di tahun kemarin, ada sekitar 600 PSK yang sudah mengikuti program vocational training.
“Kalau mereka (PSK) masih mau mengikuti training, masih akan disiapkan programnya oleh Kemensos,” ucapnya.
Dari data Kemensos RI, hingga tahun ini masih ada 99 lokalisasi yang tersebar di Indonesia. Jika empat lokalisasi ditutup, masih tersisa 95 lokalisasi di Indonesia yang masih beroperasi dengan jumlah PSK dari berbagai daerah.
Di Palembang sendiri, lokalisasi terbesar yaitu berada di Jalan Teratai Putih, Kecamatan Sukarame Palembang, atau sering disebut Kampung Baru. Para PSK-nya sendiri tidak hanya berasal dari daerah Sumsel, namun banyak juga berasal dari luar Sumatera, salah satunya pulau Jawa.
(sofuan)
