Palembang, Halosumsel – Meskipun pembangunan fly over sekip ujung terus dikebut. Namun ada saja kendala yang membuat pembangunan sedikit terhambat. Bahkan dari pengerjaan ditahun 2022, dengan target 28,46 persen. Namun, dilapangan penyelesaian pengerjaan baru mencapai 25,48 persen. Sehingga proses pengerjaan minus 2,69 persen. Hal ini terungkap dalam kunjungan dari komisi V DPR RI, dihotel Wydham Jakabaring, Kamis (10/11).

“Kedatangan kita kesini untuk melihat proyek yang dianggap perlu dilihat dari dekat. jadi ada dua proyek yang kita lihat. Pertama LRT dan kedua adalah pembangunan Fly Over Sekip Ujung Palembang. Untuk fly over ini sendiri memang belum sesuai dengan target yang dipatok,” ujar anggota komisi V DPR RI, H Ir Ishak Mekki, kepada wartawan kemarin.

Lebih lanjut dia mengatakan harusnya pengerjaan sudah mencapai 28,36 persen. “Tetapi kenyataan dilapangan mencapai angka 2,6 atau bisa dikatakan minus 3 persen,” kata Ishak. Karena itu, dia mengatakan bagaimana nantinya keterlambatan pengerjaan ini dapat dikejar. Sehingga ketika kontrak selesai semua pekerjaan juga selesai dikerjakan atau sesuai jadual.

Apa yang menjadi penyebab terhambatnya pembangunan fly over? Mantap bupati OKI ini menjelaskan, kendala yang ditemui dilapangan adalah utilitas. Antara lain, pipa PDAM, tiang listrik, Telkom. Selain itu juga ada tiga lahan yang belum terselesaikan ganti ruginya. lahan dimaksud antara lain, halaman kantor Bea Cukai. Kedua lahan Ruko sebanyak 4 deret dan tempat cucian mobil.

“Khusus untuk tempat cucian mobil sendiri, memang ada semacam permasalahan. Karena lahan tersebut diklaim oleh Petro Gas. Artinya masih ada sengketa antara pemilik lahan serta Petro Gas. Ini tentunya memakan waktu untuk penyelesaiannya. Ketika sudah masuk ranah hukum dapat memakan waktu tahunan. Karena itu kita berharap semua persoalan lapangan harus segera diselesaikan,” pinta Ishak.

Komisi V, juga meminta adanya dorongan dari DPRD, Balai Jalan, BIna Marga, Gubernur dan Walikota. “Mengingat merekalah yang mendorong pembangunan. Apalagi diruas jalan tersebut kemacetan saat ini sudah luar biasa. Bila tidak segera diselesaikan, maka rawan akan kemacetan,” kata dia. Dalam melaksanakan pembangunan, Ishak, juga mengatakan penyelesaian pekerjaan dilaksanakan mulai dari pinggir badan jalan.

“Dimulai pembangunan dari pinggir badan jalan. Kemudian dilakukan pemancangan tiang ditengah. Sehingga tidak ada kemacetan terjadi, pada saat pembangunan,” ungkap Ishak Mekki. sementara itu penanggung jawab pembangunan jalan fly over Rudi Amin, mengatakan pengerjaan pembangunan fly over memakan waktu 630 hari kerja. Dibangun oleh Waskita Karya denan KSO PT Kencana.

Saat ini progres pembangunan menurutnya, minus 2,69 persen dari target yang telah direncanakan. Panjang fly over ini sendiri rencananya 600 meter lebih. Rudi menerangkan, manfaat dari pembangunan fly over selain untuk mengurangi serta mengurai kemacetan juga bertujuan untuk meningkatkan perekonomian di kota Palembang pada umumnya.

Sementara itu, LRT Sumatera Selatan sejauh ini dikelola oleh kementrian perhubungan melalui PT KAI. Mengenai biaya operasional juga masih ditangung APBD. Sedangkan panjang lintasan LRT dari stasiun Bandara SMB II ke Depo, mencapai 23,5 km. Sedangkan kalau sampai ke stasiun dekat Depo panjangnya hanya 23 km. Saat ini ada sebanyak 13 stasiun. Menggunakan jam operasional mulai pukul 05.00 Wib hingga pukul 20.45 wib. Dengan kapasitas penumpang sebnyak 434. Dun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *