Bandung, Halosumsel– Dalam disertasinya yang bertajuk “Prospek Pengembangan Teknologi Kultur Jaringan dalam Menunjang Ketahanan Pangan,” peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Erni Suminar, mengemukakan bahwa teknologi kultur jaringan (kuljar) menjadi salah satu solusi strategis untuk menghadapi ancaman krisis pangan global. Disertasi yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini menyoroti potensi teknik perbanyakan tanaman modern di tengah tekanan perubahan iklim dan pertumbuhan populasi dunia yang diproyeksikan mencapai 10,4 miliar jiwa pada tahun 2100.

 

Erni Suminar menjelaskan bahwa perubahan iklim yang memicu kekeringan, banjir, dan peningkatan salinitas lahan secara signifikan menurunkan produksi pertanian. Kultur jaringan menawarkan pendekatan ilmiah untuk mengatasi hal ini melalui perbanyakan bibit secara massal, cepat, dan bebas penyakit dalam kondisi aseptik, berdasarkan teori totipotensi sel .

 

“Teknologi ini memungkinkan kita memproduksi bibit tanaman bernilai ekonomi tinggi dalam jumlah besar tanpa bergantung musim, serta membuka peluang perbaikan genetik melalui seleksi mutan dan variasi somaklonal,” tulis Erni dalam disertasinya yang mengutip berbagai penelitian terdahulu.

 

Disertasi tersebut memaparkan beragam aplikasi kuljar, mulai dari mikropropagasi pisang, stroberi, dan nenas di laboratorium Unpad, hingga produksi senyawa farmasi. Studi kasus dalam disertasi menunjukkan bahwa teknik ini mampu menghasilkan bibit unggul yang toleran terhadap salinitas, seperti pada ciplukan (Physalis angulata) dan ubi jalar . Selain itu, kuljar juga berperan penting dalam konservasi plasma nutfah melalui teknik kriopreservasi dan produksi benih sintetik (artificial seed) untuk mengatasi kelangkaan lahan pertanian.

 

Erni Suminar menegaskan bahwa adopsi teknologi kultur jaringan tidak hanya menjamin pasokan bibit stabil untuk skala industri, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional di era yang penuh ketidakpastian iklim.

Rel