Halosumsel.com-
Sebanyak 588 orang sebagai penghuni Lapas kelas III Kabupaten Banyuasin selama bulan suci Ramadhan 1437 H tampak seperti panti rehabilitasi, suasana religi dan kekeluargaan tampak saat shalat fardu di Masjid Lapas Rabu (22/6).
Para narapidana yang sering menyandang sebutan orang tak berguna, kini sungguh jauh berbeda dimana setiap napi yang beragama Islam diwajibkan shalat berjamaah.
“Kalau ada napi yang tidak kebagian tempat di masjid mereka shalat didalam kamarnya masing-masing secara berjamaah tiap kamar,” Kata Kasubid pembinaan Adi Kesima Wardana.
Meski berlatar belakang pelaku pidana, di bulan Suci Ramadan ini para warga binaan di lapas kelas III Kabupaten Banyuasin mampu melahap tiga Juz alquran dalam satu hari.
Suasana lapas jauh dari kesan angker dan brutal. Lebih mirip seperti pondok pesantren, atau panti rehabilitasi setiap kamar berdengung suara lantunan ayat suci. Mesjid Lapas juga dipadati warga binaan yang melakukan zikir bersama.
Kasubsi Pembinaan Adi Kesuma Wardana mengatakan, kegiatan religi ini bukan hanya terjadi temporer karena bulan Puasa. Memang sudah rutinitas para warga binaan sehari-hari.
“Bedanya di bulan puasa ini, rutinitas ibadah lebih ditingkatkan. Terutama untuk tadarus alquran, setiap hari minimal 3 jus. Sekarang sudah khatam sekali, isnyallah selama Ramadan bisa tiga kali khatam al quran,” katanya.
Uniknya lagi, saat masuk waktu Sholat, suara azan bersahut-sahutan dari 24 kamar yang berada di Lapas. “Di sini jumlah warga binaan ada 588 orang, kalau mau Sholat di mesjid semua, tidak cukup. Terpaksa gantian, yang belum dapat giliran, Sholat berjemaah di kamar masing-masing,” jelasnya.
Untuk mengevaluasi rutinitas setiap narapidan, setiap hari ada tiga orang perwakilan dari setiap kamar melakukan tablig ke kamar-kamar. Memberikan tausiah dan mengevaluasi perkembangan rutinitas ibadah setiap warga binaan.
“Dengan metode ini, perkembangan spiritual warga binaan bisa terkontrol. Bahkan dua minggu lalu, ada dua warga binaan yang menjadi mualaf,” ungkapnya.
Metode rehab dengan sistem spiritual ini dinilai cukup berhasil. Terlihat dari prilaku warga binaan yang lebih terkontrol. “Di sini, kami sama-sama belajar dan belajar bersama-sama mendekatkan diri pada sang pencipta. Karena hanya itulah satu-satunya obat yang mampu mengatasi semua permasalahan,” jelasnya.
Pihaknya melibatkan ustad dari pesantren untuk membina dan memberikan materi agama kepada warga binaan. “Pelajarannya sama persis dengan mondok di pesantren, mulai dari belajar baca alquran, fiqih, zikir sampai mempelajari kitab kuning. Dengan harapan, keluar dari sini mereka menjadi manusia yang baru dengan akidah dan akhlak yang baik,” pungkasnya.(waluyo)

