Halosumsel.com –

Sudah setahun ini tidak solusi dari pemerintah baik dari Kabupaten, Provisi maupun dari Pemetintah Pusat mengenai harga getah karet bahkan terus mengalami penurunan terus, sehingga usaha perkebunan karet miliknya terus mengalami kerugian, maka lahan kebun karet seluas 4 hektar yang selama ini menjadi andalan hidup ekonomi keluarganya terpaksa harus dibongkar dan diganti dengan tanaman Ubi atau jenis Holtikultura, terang Slamet petani kebun karet di wilayah Kecamatan Tungkal Ilir kepada wartawan (21/1).

Warga berdarah Jawa-Lampung ini saat berbincang wartawan media ini mengaku baru 6 tahun menjadi warga Banyuasin langsung menjadi warga di Tungkal Ilir ini langsung menjadi petani Kebun Karet boleh dari membeli dengan sekitar 4 Hektar.

Bersama dua anak satu istrinya kata Slamet hidup membaur dengan warga yang terdahulu didesanya ini mengusahakan kebun karet miliknya, pada tahun pertama hingga 4 tahun terbilang masih mendapat lumayan dari hasil getah karet itu, namun selama setahun terakhir ini usaha getah karetnya terus mengalami kerugian ditambah hujan yang terus menerus sehingga dihentikan penyadapannya.

Dari pengalaman hidup selama ditanah kelahirannya di Mesuji Lampung sebagai petani ladang Ubi dan hasilnya juga bisa untuk membeli lahan disini, maka diputuskan lahan kebun karet miliknya ini dibongkar untuk diubah ditanami ubi saja, jelasnya sembari merubuhkan batang karet yang juga terbilang sudah kurang produtif lagi menghasilkan getahnya ini.

Dengan modal awal dengan menjual batang karet inilah untuk membeli bibit batang ubi dari lampung dan sudah satu hektar lahanya yang sudah ditanam ubi, sambil menebang batang karet lainnya penanaman ubi pun diteruskan.

” Ya terpaksa saya harus berangkat membuka usahanya dari Nol lagi, tetapi sudah punya bekal ilmu menanam ubi ini, mudah-mudahan 7 bulan kedepan kerugian selama setahun itu sudah dapat tertutupi hasil panen ubi yang perdana nanti”, ucapnya bersemangat.

Masih kata Slamet, kalau dilihat tanahnya lahan miliknya ini sangat cocok ditanam batan ubi, kemungkinan tidak sampai 7 bulan sudah bisa dipanen, sebab pertumbuhannya lebih subur, ini saja baru berjalan tiga bulan ditanam pertumbuhannya lebih cepat dan ditanam pada usia tanam 5-6 bulan sudah dapat dipanen.

” Tanah disini masih lebih subur dibanding lahan miliknya yang di Lampung, terbukti batang ubi ditanam baru tiga bulan berjalan pertumbuhannya sudah hampir menyamai tanaman umur 6 bulan saja dan kemungkinan tidak sampai umur tanam 7 bulan ubinya sudah dapat dipanen”, imbuhnya.

Lebih jauh Slamet mengatakan, andaikata harga getah karet disini masih bertahan harga pada Rp.5 ribu perkilonya saja, masih dipertahankan hasil sadapan getahnya, tetapi harga getah karet mengalami penurunan terus bahkan hanya pada harga Rp.2,5 ribu-Rp.3 ribu perkilonya, itupun sehari disadap tiga hari istirahat karena batangnya basah akibat diguyur hujan setiap hari, gimana bisa dipertahankan, jangankan dari hasil getahnya itu untuk membeli pupuk, untuk kebutuhan makan bersama keluarganya saja sudah miris untuk diutarakannya.

Karena sudah setahun lebih juga belum ada solusi dari Pemerintah mengenai harga getah karet tersebut, maka saya mengabil inisiatif sendiri dengan membongkar semua kebun karetnya ini diubah ubtuk ditanam batang ubi.

Jika dikemudian nanti ada perbaikan harga getah juga tidak masalah bila ada keinginan untuk ditanami batang karet pun cadangan pada hari tua nanti, namun kesempatan sekarang yang lebih cepat menghasilkan, makan mengambil langkap cepat untuk meningkatkan pendapatan keluarganya.

Selain itu disebagian lahan yang basah dapat ditanami benih padi dan berbagai macam sayuran, dengan demikian setidaknya sudah dapat menekan pengeluaran dari kondisi penghasilan yang masih pasa-pasan ini, tegasnya bersemangat sembari berharap semoga ada donatur yang memberikan modal penanaman ubi ini.(waluyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *