Jakarta, Halosumsel- Dalam menghadapi krisis ketahanan pangan yang kerap melanda, ajaran Islam memberikan perspektif holistik melalui konsep takwa yang tidak hanya bersifat ritual individual, tetapi juga kesadaran kolektif dalam mengelola sumber daya alam.
Dosen dan pengkaji studi Islam dalam tulisannya menguraikan bahwa ketahanan pangan merupakan hal vital baik bagi rumah tangga maupun negara. Sebuah komunitas yang memiliki ketahanan pangan kuat cenderung stabil dalam menjalani kehidupan. Islam mengatur ketahanan pangan dengan menekankan kehalalan sejak proses produksi hingga konsumsi, sehingga pangan yang dikonsumsi bermanfaat bagi aspek jasmani dan rohani.
Al-Qur’an dalam Surat Al-An’am ayat 141 memerintahkan umat untuk memakan buah ketika berbuah, menunaikan haknya, dan tidak berlebih-lebihan. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan,” demikian firman-Nya.
Rasulullah SAW dalam beberapa hadits juga menganjurkan aktivitas bercocok tanam. Dalam riwayat Ahmad dan Muslim, beliau bersabda bahwa setiap muslim yang menanam tanaman kemudian dimakan burung, manusia, atau hewan, akan dicatat sebagai sedekah baginya. Bahkan dalam riwayat Ahmad, beliau menganjurkan untuk tetap menanam bibit kurma meskipun hari kiamat telah tiba.
Aktivitas bercocok tanam yang dilandasi niat ibadah dan dijalankan secara halal merupakan bentuk nyata ketakwaan. Indikator orang bertakwa menurut Al-Qur’an meliputi percaya kepada yang gaib, melaksanakan shalat dengan khusyuk, menafkahkan rezeki, beriman kepada kitab-kitab suci, percaya hari akhir, menunaikan zakat, menepati janji, sabar dalam kesempitan, mampu menahan amarah, serta bertaubat dari dosa.
Allah SWT menjanjikan empat garansi bagi orang bertakwa sebagaimana tercantum dalam Surat At-Talaq ayat 2-5: diberi solusi atas masalah hidup, diberi rezeki dari arah tidak disangka, dimudahkan segala urusan, serta dihapus dosa dan diberi pahala berlipat.
Kesimpulannya, solusi dalam mengatasi masalah kehidupan terutama dalam memperjuangkan ketahanan pangan adalah takwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Wallahu’alam.
Rel

