“Akibat dari gagalnya diteruskan pelebaran jalan itu, tentu bakal mengancam kemacetan saat arus mudik lebaran nanti, karena oleh pekerja kontraktor sudah dilakukan penggalian baik disisi kiri maupun kanan ruas jalan yang kedalamanya mencapai lebih 60 centimeter”, ujar Sumitro warga setempat kepada wartawan media ini (15/6).
Informasi yang didapat dari orang Balai Besar Sumsel kata Sumitro, mandeknya pengerjaan pelebaran jalan negara dalam wilayah Banyuasin itu tidak ada dananya lagi.
Dampak penggalian untuk pelebaran jalan tersebut lanjut Sumitro membuat usaha warga yang berdumisisli disepanjang proyek menjadi sengsara, bahkan yang selama ini punya usaha berjualan dibuatnya jadi bangkrut.
Sejauh ini kata Sumitro dari pihak pelaksana proyek itu sendiri sulit ditemui, karena selaku warga yang dirugikan ingin meminta konfensasi atas kerugian yang diderita selama ini.
Yang diherankannya, mengapa pihak pemerintah dan wakil rakyat dari Banyuasin maupun Sumsel sendiri tidak ada respon dengan gagalnya proyek itu, sementara sebenatar lagi akan memasuki arus mudik yang padat, sedangkan tidak ada jalan alternatif untuk menghindari kemacetan nanti.
Untuk itu kata Sumitro, meminta pihak terkait termasuk bagi pekerja kontraktor supaya disepanjang lokasi proyek itu dipasang rambu jalan, guna menekan adanya lakalantas dan yang lebih penting lagi adanya penerangan lampu jalan, sebab galian pelebaran jalan yang belum sempat ditimbun itu sangat membahayakan bagi pengguna jasa jalintim, tandasnya.
Sayangnya hingga berita ini diterbitkan dari pihak pekerja kontrantor maupun dari pihak Balai Besar yang dianggap paling bertanggungjawab belum dapat untuk diminta konfirmasinya.(waluyo)

