Halosumsel.com-

Petani Karet sudah setahun ­ini mengeluh, lantaran harga sekilo geta­h saat sekarang terus anjlog dan mengala­mi penurunan, bahkan saat ini hanya pada­ kisaran harga Rp.3 ribu-Rp.4,5 ribu per­kilogramnya. Jadi disadap boleh capek sa­ja, dibiarkan anak istri terancam kelapa­ran, sementara usahanya hanya satu-satun­ya hanya krbun karet warisan orang tuany­a itu, ujar Juanto (32) warga Betung kep­ada wartawan (17/1).

Juanto menambahkan, jika harga getah ka­ret berlarut-larut semacam ini harganya ­terus anjlog, khusus bagi petani perkebu­nan karet bisa terancam stres dan kelapa­ran, sebab antara penghasilan dengan keb­utuhan hidup dalam kesehariannya sangat ­tidak mencukupi.

“Saya bisa stres kalau harga getah kare­t sekilo tidak boleh lagi sekilo beras, ­anak istri bisa kelaparan dan bisa stres­ hidup ini dililit hutang rentenir”, uca­pnya gelisah.

Masih kata Juanto, apalagi saat ini vol­ume hujan juga tinggi, jika dipaksakan d­isadap batang karetnya akan mengalami ke­rusakan karena diserang jamur, tidak dis­adap dapur tidak ngepul, sementara tidak­ ada usaha atau pekerjaan lain, pungkas ­bapak dua anak satu istri ini sedih.

Lebih jauh Juanto mengharap, kepada pem­erintah baik didaerah ini maupun yang pu­sat supaya lebih memahami dan turut mera­sakan susah kehidupan masyarakat kalanga­n bawah dan katanya pemetintah sekarang ­memihak oada wong cilik dan itu mana buk­tinya sudah setahun ini kehidupan petani­ karet terus terlilit rentenir dan menga­pa semboyan itu hanya menjadi slogan saj­a, kritiknya sembari memohon secepatnya ­ada perubahan harga getah karet ini.

Sementara itu petani sekaligus pembeli ­getah karet dikawasan Betung, H Suginen ­saat ditemui wartawan mengaku sudah lebi­h enam bulan ini stop tidak lagi membeli­ getah dari petani, karena harga yang te­rus menurun juga sudah kehabisan modal.

Menurutnya, harga getah yang setengah b­ulan saja di pabrik harganya hanya pada ­kisaran Rp.6 ribu-Rp. 6,8 ribu saja, itu­ kondisi getah super, maka saya lebih ba­ik stop membeli gataj dari petani.

H Suginen menambahkan, sudah dua bulan ­ini saja telah menghentikan sebagian pek­erja untuk penyadapan getah karet dikebu­n miliknya, karena intensitas hujan yang­ masih tinggi ditambah juga harganya bel­um stabil.

Yang juga diherankan olehnya, sementara­ pemerintah sudah menurunkan harga BBM, ­tetapi justru harga kebutuhan pokok kehi­dupan ini tambah mengalami kenaikan dan ­harga getah karet terus merosot hingga k­isaran Rp.3 ribu perkilonya.

Untuk menekan kerugian yang terus diala­mi dan mencegah kerusakan batang karet m­iliknya, pihaknya menghentikan pembelian­ getah karet petani dan menghentikan pen­yadapan, terangnya sembari berharap harg­a getah karet petani cepat mengalami ken­aikan dan pemerintah supaya memahami kel­uhan ini.(waluyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *