Halosumsel.com-
Akhir-akhir ini nelayan di Kecamatan Sembawa dan Banyuasin Ill Kabupaten Banyuasin merasakan kesulitan menangkap ikan di sungai batanghari Muara Limau dan Sekitarnya lalu mengubah provesi menjadi pengangkut berbagai jenis bibit milik petani. Hal ini diakui oleh salah seorang nelayan Desa Karang Petai Kecamatan Banyuasin lll, Hasan (49) saat diwawancari Minggu (17/1).
Beberapa bulan ini pendapatannya minim sekali dibandingkan dengan sebelumnya. Akibat merosotnya penghasilan dari bernelayan, hasan alias Has menerima kerja borongan mengangkut bibit kelapa sawit disalah satu perusahaan perkebunan di Banyuasin.
Dikatakan Has, penyebab kurangnya tangkapan ikan disebabkan oleh berubah rasa air sungai dari air payau berubah rasa asam. Warna airnya pun sudah berubah dari warna jernih berubah kehitam-hitaman.
Perubahan warna dan rasa air tersebut diyakini penyebab berkurangnya ikan air payau diwilayah muara batanghari Sungai Limau dan sekitarnya. “Saya juga mencari ikan hingga ke simpang PU perairan Tanjung Lago, ikannya juga sangat langka, mencari sehari semalam hanya dapat 5 Kg ikan jenis selontok, dan ikan cicak cino, harganya pun sanggat murah dan cocoknya dibuat ikan asin, keluh Has.
Masih dikatakannya, kajang (atap,red) kapalnya pun dibongkar pasang untuk muatan bibit kelapa sawit yang dipesan oleh perusahaan perkebunan. “Saya berubah haluan dulu ganti usaha dikebun karena tuntutan kridit jaring tangkap ikan yang sedang berjalan,” tukas Has.
Hal senada dikatakan oleh Mat Buhori (56) warga Talang Kelapa ini mengaku susah mencari ikan saat ini akibat dari air sungai berubah warnanya. “Perubahan warna air disebabkan oleh galian perusahaan perkebunan yang menyebabkan air perkebjnan yang bercampur dengan zat kimia sisa pemupukan terlarut kesungai,” imbuhnya.
Selain itu ganasanya penyeteruman ikan yang marak dilakukan oleh oknum warga desa memperparah habisnya anakan ikan sehingga generasi penggantinya ikut musnah terkena seterum. “Sebelumnya saya jarang beli ikan asin, karena disawah ikan sudah sangat banyak, namun saat ini koñdisi berubah jarang makan ikab karena sulitnya menangkap ikan,” tukasnya. (waluyo).

