Ruas jalan yang belum pernah dilakukan pengaspalan atau pengecoran beton dan hanya berbahan dasar tanah merah saat dilintasi kendaraan yang mengangkut hasil produksi masyarakat ditambah ada turun hujan membuat menjadi mirip lahan persawahan yang siap untuk ditanami padi saja, ujar Wanto warga setempat kepada wartawan (12/5).
Wanto menambahkan, untuk saat sekarang diruas jalan itu jangankan kendaraan angkutan barang, sedangkan untuk kendaraan roda dua saja banyak yang menyerah.
Dampak kondisi ruas jalan utama semcama itu lanjut Wanto, aktipitas ekonomi masyarakat dalam wilayah Tungkal Ilir menjadi lumpuh, walau saat ini harga komuditi dari Getah Karet dan Buah Sawit sudah mulai mahal.
Masih kata Wanto, sekalipun hasil produk perkebunan masyarakat disini meningkat dan harganya sudah mahal, tet diluar, tetapi bagi masyarakat Tungkal Ilir itu tidak dapat menikmatinya, sebab para pedagang yang datang membelinya masih dengan harga yang jauh lebih murah, jelasnya.
Untuk dia berharap supaya pemerintah Banyuasin segera mungkin merealisasikan janjinya akan melakukan pengerasan ruas jalan utama itu syukur dilakukan pengecoran beton agar masyarakat tidak menjadi korban tengkulak terus.
” Jika sampai memasuki bulan Ramadhon ini masih tinggi intensitas hujannya dan belum ada upaya dari Pemerintah Banyuasin untuk melakukan perbaikan, tentu masyarakat Tungkal Ilir akan lebih sengsara dan Bapak Bupati Banyuasin yang pernah menjanjikan mau melakukan pengerasan itu segera diwujudkan”, tukasnya. (waluyo)

