PALEMBANG – Upaya peningkatan produktivitas kelapa sawit rakyat terus diperkuat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, salah satunya lewat pelatihan teknis yang tidak hanya menekankan aspek budidaya, tetapi juga perubahan pola pikir pekebun.
Sebanyak 128 peserta asal Kabupaten Musi Rawas mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Tahun 2026 Angkatan XVII, XVIII, XIX, dan XX yang berlangsung pada 28 Juli hingga 2 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training.
Kepala Dinas Perkebunan Musi Rawas, Effendi Fery, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk mendorong pekebun lebih profesional dalam mengelola usaha perkebunan. Selama ini, sebagian besar pekerja di sektor sawit masih berorientasi pada pekerjaan harian tanpa memahami manajemen kebun secara menyeluruh.
Melalui pelatihan tersebut, peserta yang terdiri dari pekebun rakyat, pelaku usaha, hingga generasi muda diperkenalkan pada konsep pengelolaan kebun berbasis perencanaan dan efisiensi. Mereka didorong untuk tidak hanya fokus pada hasil panen, tetapi juga memahami proses budidaya yang benar.
Sejak 2024 hingga 2026, tercatat sebanyak 763 pekebun telah mengikuti pelatihan serupa yang difasilitasi IPB Training. Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas melalui penerapan teknik budidaya modern, mulai dari penggunaan bibit unggul, pengaturan jarak tanam, hingga pemupukan yang tepat.
Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman tentang pengelolaan keuangan hasil panen. Pekebun didorong untuk menyisihkan sebagian pendapatan guna kebutuhan perawatan kebun, seperti pemupukan dan pengendalian hama, sehingga produktivitas dapat dipertahankan secara berkelanjutan.
Berdasarkan data Dinas Perkebunan Musi Rawas, luas perkebunan kelapa sawit rakyat pada 2025 mencapai 63.867,50 hektare dengan produktivitas rata-rata 2,43 ton CPO per hektare per tahun.
Sementara itu, Lead Trainer IPB Training, Prof. Dr. Hariyadi, MS, menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan materi komprehensif yang mencakup pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma, teknik pemupukan pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman Menghasilkan (TM), serta pengendalian hama dan penyakit.
Metode pembelajaran dilakukan melalui kombinasi teori dan praktik lapangan agar peserta dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang diperoleh.
Sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan dinilai menjadi kunci dalam mencetak pekebun sawit yang kompeten dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pertanian.
Melalui pelatihan ini, diharapkan produktivitas sawit rakyat di Musi Rawas terus meningkat sekaligus memperkuat pengelolaan perkebunan yang lebih efisien dan berkelanjutan.(ril)

