Halosumsel.com-
Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat Rahmat Waluyanto, Rabu (23/3) mengatakan saat ini literasi dan iklusi keuangan nasional masih rendah. Karena itu, untuk meningkatkan hal tersebut perlu adanya dukungan dari berbagai pihak.
“Saat ini literasi secara nasional baru 20 persen sedangkan dilihat dari inklusi masih 50 persen dibandingkan dari negara lain ini masih dibawah rata-rata,” katanya usai acara pelantikan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Sumsel di Griya Agung.
Karena itu, kedepan pihaknya menargetkan literasi dan inklusi keuangan meningkat setinggi-tingginya. Dirinya menambahkan, salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan itu semua yakni pembentukan TPAKD.
Tim ini, lanjut Rahmat, tujuannya untuk memberikan masukan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) serta kepada steakholder yang ada didaerah, seperti seberapa besar potensi keuangan didaerah tersebut, apa kegiatan ekonomi yang dapat dibiayai Pemda dan lain sebagainya yang nantinya akan disampaikan kepada pimpinan didaerahnya.
“Dengan begitu dapat menciptakan market dan mengedukasi masyarakat sehingga dapat berpartisipasi. Jika keuangan daerah meningkat dan banyak dana yang dimobilisasi maka ekonomi daerah tersebut meningkat,” ujarnya.
Dibentuknya TPAKD ini sendiri, Rahmat menjelaskan karena pihaknya menyadari bahwa potensi ekonomi daerah dan potensi pendanaan daerah sangat pas, dan pembangunan ekonomi nasional itu bertumpu pada di keuangan daerah.
“Karena itu, peran OJK sangat penting dan dibantu dengan steakholder dan pemangku kepentingan daerah untuk bisa menggerakkan sektor jasa keuangan di daerah,” ujarnya.
Dijelaskannya, TPAKD ini sendiri dipimpin langsung Gubernur Sumsel sebagai tempat sentral selain itu Gubernur merupakan penguasa daerah untuk tingkat provinsi. Untuk anggota sendiri yaitu dari Pemda, BI dan beberapa orang lainnya.
Dengan dibentuknya TPAKD ini maka akses keuangan didaerah semakin bisa disediakan kepada semua lapisan masyarakat dan pelaku ekonomi didaerah tersebut. Selain itu, dibentuknya TPAKD ini juga untuk memperluas akses keuangan didaerah.
“Misalnya yang sudah disedikan OJK dan lembaga keuangan saat ini seperti Laku Pandai atau layanan keuangan tanpa kantor dalam rangka keuangan inklusi. Salah satu cara menjangkau para nasabah ditempat terpencil yang penghasilnya rendah sehingga dapat menikmati akses perbankan,” ujarnya.
Saat ini program Laku Pandai ini sudah berjalan namun kedepan akan ditingkatkan kembali dengan cara sosisalisasi kepada pelajar serta memberikan edukasi kepada para nasabah yang tersebar di pelosok desa dan ini dilakukan bersama semua pihak sehingga pencapaiannya secara optimal.
“Semoga kedepan keuangan di daerah semakin baik sehingga ekonomi nasional dapat meningkat,” harapnya.
Sementara itu, Sekda Sumsel yang sekaligus koordinator TPAKD, Mukti Sulaiman mengatakan, dibentuknya TPAKD ini agar uang yang ada dibank itu banyak yang nantinya dapat dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk pinjaman atau kredit.
“Jadi masyarakat jangan hanya menyimpan uang dibawah bantal, dibawah tikar tetapi simpan pada layanan keuangan seperti bank,” imbaunya.
Dirinya menambahkan, masyarakat dapat menyimpan sedikit demi sedikit uang mereka tanpa adanya batasan.
Nantinya lama kelamaan akan menjadi banyak. “Selama ini besar tapi sedikit nah kedepan meskipun sedikit tapi banyak nasabah. Untuk sektor koperasi, songket dan beberapa produk lainnya itu kami dorong untuk mendapatkan pembiayaan dari bank,” ujarnya.
Ditempat yang sama, Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin menambahkan TPAKD ini pertama di Indonesia yang intinya akses untuk keuangan daerah dipercepat. “Pokoknya menyangkut percepatan segala sesuatu keuangan daerah,” pungkasnya. (sofuan)

