Halosumsel.com –

Harga minyak dunia sudah mengalami penurunan yang tentunya berimbas pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia. Heriyanto Abidin, Brand Head Palembang PT Putra Persada Permata Prima Perkasa,  perusahaan niaga perminyakan di Sumsel, sekaligus pengamat perminyakan ini mengatakan, banyak perusahaan dan industi melakukan penyedotan terhadap solar bersubsidi.

“Padahal harga solar non subsidi tidak tinggi. Namun, industri masih menyedot solar subsidi,” tuturnya. Dijelaskan Heriyanto, harga minyak dunia yang masih di bawah USD 50 per barel akhir-akhir ini atau dikisaran Rp 688500 perbarel. Harga tersebut, sudah berimbas pada menurunnya harga jual bensin maupun solar non subsidi.

“Namun nyatanya, saat ini pihak industri atau perusahaan masih sering “nyedot” BBM (Bahan Bakar Minyak) subsidi yang selama ini diperuntukkan bagi masyarakat, dan angkutan  yang notabene subsidi,” tegasnya.

Menurutnya, jika dihitung harga dasar BBM industri setelah dipotong ongkos kirim,  PPN 10 persen (tapi bisa redstrusi atau kompensasi dari pemerintah), PBBKB 7,5 persen dan PPH 0,3 persen. Jumlah tersebut belum termasuk potongan diskon yang diberikan mulai 15-25 persen.

“Maka  harga solar non subsidi di Indonesia masih tetap lebih murah dibanding BBM bersubsidi,” jelas Heriyanto. Dia menambahkan, posisi sekarang minyak non subsidi lebih murah dibanding subsidi ini terlihat dari surat keputusan SVP Fuel Marketing dan distribution PT Pertamina no. Kpts-010/F10000/2016-S3 pada 28 Januari, yang berlaku mulai 1 Februari hingga 14 Februari mendatang.

Masih dikatakannya, dalam keputusan yang dikeluarkan oleh PT Pertamina. Harga jual keekonomian BBM pertamina non subsidi tanpa pajak perliternya, untuk premium Rp 6.400, minyak tanah Rp 6.250, minyak solar Rp 5.650. Minyak diesel Rp 5.950, minyak bakar Rp 3.700, pertamina dex Rp 6.400, dan Bio solar industri Rp 5.900.

“Jika kita cermati, jika dihitung-hitung untuk harga solar non subsidi perliternya hanya Rp 5.325, setelah dipotong sana-sini, jelas murah dari yang dijual SPBU. Namun, pihak industri terkadang masih mengambil dari SPBU, yang jelas peruntukannya untuk masyarakat,” pungkasnya (ofie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *